Dear Miki,
04 April 2014,
Hari dimana aku bertemu kamu.
Mungkin lebih tepatnya hari dimana
aku menunggumu.
Aku menunggumu semata mata hanya
karena aku ingin melihat wajah yang mampu melelehkan hatiku.
Wajah yang bagaikan sinar matahari
yang perlahan mencairkan salju.
Bagai musim semi dadakan kala itu
kau hadir dihadapanku.
Melihat matamu yang tajam
menatapku,mata yang bagai kristal es itu.
Begitu dingin menatap tajam.
Aku jadi penasaran, bayangan apa
yang mungkin terlintas dipikiranmu.
Apa yang kamu pikirkan saat aku yang
salah tingkah ini menatap penuh kebahagiaan kepadamu.
Senang,bosan,biasa saja,atau bahkan
benci.
Ingin aku sekali saja memiliki
kemampuan membaca pikiranmu.
Agar aku tahu makna dari tatapan
singkat yang tajam itu.
Aku tahu mungkin kau bosan, atau
bahkan merasa risih ketika aku yang tak karuan ini sering sekali melempar
pandangan kepadamu.
Bodoh! Benar benar bodoh.
Jujur kuakui aku tak pernah sekonyol
ini.
Mencari cari kehadiran yang tak
ingin kucari.
Menunggu seseorang yang tak ingin
kutunggui.
Aku merelakan waktukku untuk
menunggumu hadir didepan mataku.
benar benar bodoh membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berarti.
benar benar bodoh membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berarti.
Meskipun saat kau hadir,tak ada yang
bisa kulakukan.
Selain memuaskan pandanganku padamu.
Karena bagiku belum tentu besok aku
bisa melihatmu lagi.
Maaf.
Mungkin kata itu yang harusnya
kuucapkan padamu.
Maaf karena selama ini aku mengotori
pandanganmu.
Maaf bila selama ini kamu merasa
risih akan kehadiranku.
Tapi asal kau tahu kehadiranmu
dihadapanku bagai bunga sakura.
Indah, menyenangkan, meski hanya
sesaat.
Bagiku kamu dan bunga sakura itu
sama.
Sama sama hal yang selalu kutunggu,
kapan aku bisa melihatnya.
Bagiku kamu juga seperti bintang.
Indah, tapi tak bisa termiliki.
Begitu berartinya dirimu bagiku.
Tapi tidak dengan aku dimatamu.
Aku sadar akan tempatku.
Dalam buku yang kubaca penulisnya
mengatakan
“mereka yang berada dilangit hanya akan mencintai yang juga berada dilangit”
Dan kurasa itu memang benar.
Aku benar benar minta maaf.
Jadi terhitung dari saat itu,
Seperti yang telah kutulis
sebelumnya.
Aku ingin mengakhiri semuanya.
Kan kulepas semua rasa dalam diam
ini.
Aku yang memulainya sendiri, dan
harus bisa kuakhiri sendiri.
Kan kutamatkan cerita ini meski
tanpa ada akhir.
Cerita yang berawal tanpa awal
harusnya juga diakhiri tanpa akhir.
Baik baiklah kamu dimanapun berada.
Biar Dia yang menjagamu.
Tangisan hitam dalam rona senyuman bunga cherry.
Dibulan April untuk Miki.
Kurasa telah mewakili segalanya.
Maaf dan Terimakasih.
Dari
yang mencintamu dalam diam
by : yunaanee & caprilarnation.
:')