“kondisimu sudah mulai membaik. Dengan melakukan kemo tiga atau empat kali lagi kau sudah bisa pulang kerumah.” Tutur perawat yang sedang mendorongku kembali ke kamar perawatan.
Aku hanya membalas dengan senyuman penuh harap semua
perkataan perawat atau dokter yang menyatakan kalau kondisiku sudah membaik.
Entah berapa kali sudah aku mendengar peryataan itu, dan entah sudah berapa
banyak juga senyuman penuh harapan kulontarkan pada mereka sampai pada kenyataannya
sekarang aku belum juga di izinkan pulang kerumah dan beraktivitas layaknya
orang yang normal.
Dokter dan perawat yang terburu buru, suara nyaring
sirine ambulan, suara tangisan para keluarga pasien di UGD sudah hampir dua bulan ini kunikmati. Sejak pertengahan
februari lalu tepatnya sehari setelah aku merayakan hari kasih sayang aku tak
sadarkan diri dan terdiaknosa kanker pankreas stadium akhir. Sejak saat itu
kondisiku melemah dan harus menjalani perawatan intesif dan kemoterapi.
Seminggu setelah itu juga aku kehilangan kekasihku, dia pergi entah kemana
setelah tahu aku sakit keras. Sejak saat itu rumah sakit telah menjadi rumah
keduaku, aku mulai akrab dengan seluruh penghuni rumah sakit, baik yang hanya
menginap untuk beberapa malam atau bahkan dengan mereka yang menghembuskan
nafas terakhirnya disini.
“tunggu sebentar..”
Sebuah lukisan bunga berwarna putih dengan rona
merah muda di lobby membuatku penasaran, baru kali ini aku melihat ada bunga
yang sesederhana itu dan cantik.
“itu bunga apa?” tanyaku pada perawat yang membawaku
“aku belum pernah melihatnya”
“benarkah kau belum pernah melihatnya?” Tanya
perawat itu seolah tidak percaya
“bunga itu memiliki nama yang sama denganmu”
Ungkapnya sembari membawaku masuk ke lift kembali menuju kamar tempatku
menginap.
Sesampainya di kamar aku mencari tahu apa dan
bagaimana rupa sakura sebenarnya.
Sudah 16 tahun lebih aku menyandang nama Sakura dan
baru sekarang aku mengetahui bahwa Sakura adalah bunga berwarna putih yang
nampak suci dengan rona merah muda yang sangat sederhana namun cantik sekali.
Bunga yang menjadi ikon Negara jepang ini memang belum pernah kulihat.
“aku ingin merasakannya, aku ingin melihatnya”
gumamku sembari menatap layar handphone yang di penuhi gambar bunga sakura.
Semakin aku mencaritahu tentang keindahannya semakin
ingin aku melihat, menyentuh, dan mengirup segar baunya.
Saat aku sedang asyik melukiskan betapa indahnya
sakura di dalam fantasiku tiba-tiba seorang pria paruh baya menepuk pundakku.
“hey.. apa yang sedang dipikirkan gadis kecil ayah ini,
sampai tak menyadari kehadiran ayahnya?” Tutur ayah yang memecah lamunanku
“ayah” balasku sembari melingkarkan tanganku di
pinggangnya.
“ayah aku kangen, setelah ini apa ayah akan pergi
lagi?”
Dengan nada yang sedikit memanja aku ingin memastikan
dan berharap kata tidak akan terucap dari bibir dibawah kumis tipis itu. Namun
hanya senyuman manis dan sorot mata sipitnya itu yang menjawabnya.
Ayahku adalah seorang wartawan, tak heran jika dia
sering pergi meninggalkanku demi melepaskan dahaga masyarakat yang haus akan
informasi mengenai suatu kejadian yang sedang booming di luar sana. Sering sekali aku merasa kesepian ditinggalkannya,
karena memang hanya dia satu-satunya yang kumiliki.
Ibuku meninggal saat aku berusia enam tahun karena
kecelakaan pesawat saat akan pergi ke Jepang. Sejak saat itu ayah selalu
melarangku mencari tahu tentang jepang dan ayah juga selalu menolak tawaran
meliput berita di Jepang seperti yang dilakukannya minggu lalu saat mendapat
tawaran meliput Hanami di Jepang
bulan depan, ia menolaknya dengan alasan karena hari itu bertepatan dengan hari
ulang tahunku. Tak heran jika sampai saat ini aku tak tahu banyak tentang
sakura.
“ayah..”
“iya sayang?”
“aku ingin ke jepang”
Dengan gemetar aku memberanikan diri mengutarakan
kata tersebut, yang akhirnya membuat ayah hanya terdiam terpaku memandangku. Entah
bentuk ekspresi marah atau apa aku sendiri juga tak tahu.
“aku ingin melihat sakura” tambahku dengan mata
memelas yang membuat ayah melepas dekapannya,lalu mengalihkan pandangannya ke
jendela sembari menghela nafas, seolah kecewa mendengar permintaanku itu.
“pak Agung boleh minta waktunya sebentar, dokter
ingin bicara kepada anda”
Belum sempat ayah menanggapi permintanku perawat
memanggilnya untuk menghadap kepada dokter.
04 April 2014
“ayah.. lihat bunganya cantik bukan?”
“sudah kubilang kita tidak akan sia sia melihatnya,
untung kita datang tepat waktu”
“mereka bilang sakura memiliki siklus hidup yang
sangat singkat, hanya dua minggu”
“kita benar benar beruntung datang tepat waktu yah..”
Ayah hanya membalas semua ocehanku dengan senyuman. Sepertinya
ayah senang melihatku bahagia karena bertemu dengan Sakura.
Ya aku memang bahagia yah, karena pada akhirnya aku bisa
melihat bunga sakura dan tidak merasakan rasa sakit lagi di sekujur tubuhku. Aku
sembuh benar benar sembuh.
Tanpa pikir panjang aku mengajak ayah berhenti
sejenak dan mengatakan sesuatu
“ayah hari ini adalah hari ulang tahunku bukan? Aku mempunyai satu permintaan. Tapi sebelumnya aku ingin berterimakasih, karena kau sudah memenuhi janjimu untuk pergi ke jepang melihat bunga sakura demi aku. Terimakasih telah menjagaku dan merawakku selama ini. Dihari ulang tahunku ini aku hanya meminta satu hal saja, ketika aku pergi nanti pulanglah bawalah bersamamu beberapa kelopak bunga sakura yang jatuh mengenaimu. Ayah aku mencintaimu. Jaga dirimu baik-baik.”
Dengan langkah pasti dan senyum termanis aku
berjalan pergi meninggalkan ayah di antara gugurnya bunga sakura. Airmataku
seketika mengalir saat melihat ayah menangis.
Di dalam pesawat Agung terdiam, sesekali matanya
menenteskan airmata melihat setangkai bunga sakura yang ia pangku dihadapanya. Ia
teringat anak semata wayang dan istrinya yang begitu mencintai sakura.
Hari ini dia terpaksa harus kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan pemakaman putri semata wayangnya yang semalam tepat di hari ulangtahunnya datang menemuinya.
04 April 2015
Hari ini dia terpaksa harus kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan pemakaman putri semata wayangnya yang semalam tepat di hari ulangtahunnya datang menemuinya.
04 April 2015
Sekarang seakan menjadi sebuah kebiasaan, setiap
tahun saat musim semi tiba Agung selalu pergi ke Jepang untuk sekedar memetik
bunga Sakura dan meletakkannya di kedua nisan orang yang paling ia cintai. Tak jarang
ia juga membawakan kue strawberi berhiaskan pondan berbentuk bunga sakura yang
tengah mekar jika hari itu bertepatan dengan hari jadi anaknya persis seperti hari ini. Sekarang dia benar benar sendiri.
Sakura , hidupmu memang singkat. Tapi keindahan,
kecantikan, kehangatan yang kau bawa, kesederhanaan yang ada pada dirimu semuanya
mampu membuatmu dirindukan. kau telah menunjukkan pada dunia bahwa memiliki
hidup singkat bukan berarti tidak ada artinya. Melainkan keidahan itu selalu ada
dalam setiap detiknya, semuanya tergantung pada kita yang akan mengabaikan
artinya atau menikmatinya dan membuatnya berarti.
- a.l